About

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

ZAHRA


Madu. Kata yang tidak asing bukan? Berasa manis, menjadikan sikonsum si sehat, begitu juga dengan bermuka madu, berhati madu, berbulan madu. Tapi bagaimana dengan madu yang akan kuceritakan ini? Kalian boleh menafsirkan sesuka.
Baiklah biar kuceritakan ciri-cirinya sebagai pembuka. Namanya Zahra. Tinggi badannya melebihi tinggi badanku. Aku setinggi telingganya. Jika kutafsir tingginya mencapai 160 cm. Dengan tubuh yang tidak begitu ideal. Jarinya tidak begitu lentik. Wajahnya juga tidak begitu berkilau seperti perempuan-perempuan keturunan Belanda lainnya. Mungkin yang membuatku tertarik padanya selain tatapanya yang selalu menghargai lawan bicara adalah senyum yang mampu mengubahnya menjadi perempuan memesona.
Tapi aku terlalu muda untuk menafsirkan kecantikannya. Yang kutahu, tidak sengaja kupergoki ibuku menangis ketika bertelepon dengannya. Ini kali ke dua, aku melihat ibu bijaksanaku menangis. Aku tahu, ayahku pasti ingin memadu ibu dengan perempuan itu.
Tidak mudah aku mencari tahu nomer teleponnya. Melalui teman dekat ayah, akhirnya aku berhasil mendapatkan. Aku menghubungi. Dia terkesan tersengat ketika tahu aku yang meneteleponnya. Tidak mudah mengatur  janji dengan perempuan berlesung pipi tipis kiri ini. Dia hanya bersedia menemuiku hari minggu. Aku siap menunggu.
“Maaf,” kata awalku dalam menjamu perempuan yang biasa kupanggil Mbak Zahra. Aku memilih tempat yang menjadi tempat faforit ayahku. Rumah makan gubuk, dengan suasana persawahan. Seperti biasa ketika kami bertemu, dia mengelus pundakku. Menggukir senyum dan memersilakan aku duduk.
“Ada sesuatu yang ingin kau ceritakan, Rif?”
“Ini tentang ibuku.”
Perempuan yang bibirnya hampir tidak pernah berparas lipstik ini mendongak. Melepaskan napas panjangnya.
“Ini boleh diminum?” tanya perempuan yang kulihat sempat membelalakkan mata.
“Iya.” Jawabku datar. Aku sengaja menyediakan minuman yang sesuai dengan isi kantongku yang juga menjadi minuman faforit ayah; susu soda merah muda. Aku tahu, jika kami memesan makan, Mbak Zahra pasti yang akan membayar. Tapi bukannya aku yang mengundangnya? Aku mencoba menjadi laki-laki dewasa.
“Ibumu kenapa, Rif?” suara yang tidak pernah berubah, serak-serak basah.
“Ibuku menangis.”
“Rifki, sudah bertanya kenapa Ibu menangis?”
“Tidak.”
“Kira-kira Rifki tahu ibu menangis karena apa?”
“Iya.”
“Hem?” perempuan itu mengelus rambutku. Aku merasakan ia telah menjadi ibu keduaku.
“Ibuku ingin, keinginan ayahku tercapai.”
“Rifki tahu, Ayah Rifki ingin apa?”
“Ingin menikah dengan Mbak Zahra.”
Aku tahu Mbak Zahra berpelik. Ia menyimakku lebih dalam dari sebelumnya. Mungkin baginya anak seusia 15 tahun sepertiku tidak perlu tahu masalah orang dewasa.
“Rifki,”
“Ibuku bersedia mundur demi kebahagiaan ayah. Mbak Zahra ingin tidak mau diduakan, kan?” aku mencoba tidak mendengarkan hatiku sendiri. Bagiku kebahagiaan ibu adalah milikku. Meskipun itu menjadikan hatiku terajam oleh belati berkali-kali.
“Rifki,”
“Ayah ingin anak perempuan. Ibu tidak bisa memberikan apa yang diinginkan ayah. Ibu rela mundur, Mbak.” Aku tidak berani menatap perempuan keturunan Belanda itu. Pasti air mataku takkan mampu tersumbat ketika sekali saja aku menatap matanya.
“Rifki yang pintar membahagiakan ibu, Mbak Zahra akan mencoba membantu ibu Rifki untuk punya anak perempuan ya? Mbak Zahra akan mencari tahu cara dari ilmu kedokteran maupun agama, insyaAllah ada.”
“Tidak, Mbak. Ibu sudah tidak mau hamil lagi. Ibu merasa usianya sudah tua. Ibu kasihan jika anak keempatnya nanti tidak mendapat kasih sayang yang cukup dari ibu. Karena menurut ibu, bisa saja kematiannya lebih awal dari pada kematian Rosul.” Aku berdecak dalam hati. Kurasa lidahku tajam. Perasaanku melambung. Satu tetes air mata tidak bisa kutahan. Celanaku terbasahi olehnya. Mbak Zahra menyodorkan tisu. Aku mengusap air mata.
“Jika ibu punya anak perempuan, Ibu juga tidak akan sanggup melihat anaknya termadu oleh orang seperti ayah yang ingin memadu ibu.” Hatiku terasa teracuni oleh kata-kataku sendiri. Entahlah apa yang dipikirkan Mbak Zahra. Selanjutnya, ia mengeluarkan selembar kertas HVS putih dengan bolpoin merah. Aku tahu sejak dulu Mbak Zahra yang kukenal sebagai teman mengajar ayah yang beberapa bulan itu, suka warna merah. Ia menuliskan sesuatu. Entah apa. Aku masih tersibukkan mencabut duri-duri pada hati.
“Rifki, yang sudah pintar bersikap mandiri, Mbak Zahra tidak bisa berlama-lama. Selembar kertas ini semoga bisa mewakili keputusan Mbak Zahra. Hem, minuman ini sudah dibayar?” tanya Mbak Zahra memperpindah topik. Mbak Zahra paling pintar memalingkan topik satu pada topik lainnya. Kadang aku merasa gemas padanya.
“Sudah, Mbak.”
“Wah, Mbak Zahra ditraktir Rifki dong?”
Aku tersenyum, sedikit ada rasa bangga. Kuanggap kata-kata Mbak Zahra sebagai pujian.
“Rifki, tetap di sini dulu atau ikut pulang?”
“Biarkan Rifki di sini dulu, Mbak.”
“Mbak Zahra duluan ya?”
Aku mengangguk.
##

Sore ini, aku tidak bisa melepas ingatanku bertemu Mbak Zahra. Kubuka lembaran sembari kubayangkan wajah Mbak Zahra yang pasi.

Rifki yang baik, sebaik ayah dan ibu Rifki, terima kasih ya, sudah menerima Mbak Zahra seperti saudara. Rifki, tahu sendiri, kan? Di zaman ini sulit sekali mendapatkan saudara sebaik kalian.
Rifki, Mbak Zahra mengerti perasaan Rifki, perasaan ayah dan ibu Rifki. Ayah Rifki yang menginginkan Mbak Zahra menjadi istrinya untuk menjadi calon ibu anak perempuannya. Ibu Rifki yang tidak sanggup melihat suaminya menderita. Dan Rifki yang tidak bisa merasakan rasa sakit yang terus-menerus ada dihati ibu Rifki.
Ayo kita mencoba menganalisis, apakah Rifki yakin Mbak Zahra mampu memberi anak perempuan untuk Ayah Rifki, sedang Mbak Zahra sendiri berharap punya anak laki-laki sebaik Rifki. Jika Ibu Rifki yang siap dimadu bahkan siap mundur karena tidak bersedia mempunyai darah daging perempuan karena anak perempuannya takut punya nasip sama yaitu dimadu, bagaimana dengan Mbak Zahra yang seandainya punya anak perempuan yang dimadu, sedang Mbak Zahra dimadu saja tidak mau, lebih menyakitkan bukan?
Rifki, baru dua kali ini Mbak Zahra merasa dihargai oleh cinta selain cinta dari keluaga. Rasanya sakit. Bayangkan beberapa orang yang cintanya belum bisa Mbak Zahra terima saja, rela menangis bahkan ada yang mengancam, bagaimana dengan dua orang yang salah satunya adalah Ayah Rifki yang benar-benar mengharapkan kebahagiaan Mbak Zahra, yang benar-benar tidak ingin ada  orang lain yang menyakiti Mbak Zahra?
Tapi sungguh Rifki, kejujuran Ayah dan Ibu Rifki menjadikan hati Mbak Zahra tergurat. Sakit. Telah banyak orang yang tersakiti oleh Mbak Zahra. Mungkin inilah salah satu penyebab Mbak Zahra ingin segera menikah, supaya memutus rasa sakit untuk orang yang sudah maupun akan mencintai Mbak Zahra, sedang Mbak Zahra sulit mencintainya.
Rifki yang mulai dewasa, salam untuk ibu hebat Rifki, sampaikan kekaguman Mbak Zahra kepadanya. Mbak Zahra pernah membaca beberapa cerita yang tokoh perempuannya menginginkan suaminya menikah lagi, Mbak Zahra tidak percaya karena naluri perempuan tidak bisa diduakan. Tapi sekarang Ibu Rifki telah menunjukkan pengorbanan harta terbesar perempuan, perasaannya; untuk membahagiakan Ayah Rifki.
Kurang hebat apa  Ibu Rifki?
Kehebatan apa yang kurang pada diri Ibu Rifki di mata Ayah Rifki?
Ibu Rifki yang begitu hebatnya saja akan dimadu, bagaimana dengan Mbk Zahra yang sering egois, dan sering membuat Ayah Rifki menangis?
Semoga Rifki memahami Mbak Zahra.

“Rifki, teman ayah kecelakaan, masuk rumah sakit. Ibu ikut ayah menjenguk, Rifki jaga rumah ya?” suara Ibu. Terasa Ibu mendongak dari pintu kamar. Aku hanya mengangguk. Terdengar ibu mengunci pintu rumah dari luar. Kulipat lembaran yang telah bercorak air mata.
Aku tahu yang dimaksud ibu adalah Mbak Zahra. Mbak Zahra yang kutemui tertabrak mobil yang melintas. Sedang menurut cerita para pedagang disekitar kejadian, Mbak Zahra menyeberang jalan tanpa melihat ke kiri maupun ke kanan. Kejadian itu tepat sepulang dari tempat kami janjian.
Aku melihatnya tadi siang. Darahnya tercecer melumuri jilbab merah darah Mbak Zahra. Orang-orang berbondong-bondong menghampiri. Ada yang menghubungi ambulan. Da juga yang mengurus tubuh Mbak Zahra. Tubuh Mbak Zahra ditutupi koran.
Aku menutup mata, tak sanggup membayangkan.

 IMSICX
Wuluhan, 30 Januari 2013

HAYALANKU KESASAR


Mungkin kau akan bertanya-tanya bagaimana cara menahlukkan orang yang memerintahmu. Pasti kau pernah ingin menjadikan orang yang menjadikanmu kacung selama ini menjadi kacungmu.
Sedikit-dikit pasti telah kau bayangkan bagaimana sesekali kau membentak dia yang berkali-kali membentakmu. Bayangkan saja, meskipun kau membentaknya dalam bayangan, setidaknya kau mendapat kepuasan. Sepertiku, yang setiap kali membayangkan membunuh anak majikan.
“Kau pecundang.” Kata bayanganku suatu ketika. Mungkin bayanganku bosan membayangkan terus-menerus membayangkan pembunuhan anak majikan. Karena aku disebut pecundang, saksikanlah aku pasti akan menjadi srigala yang siap menerkam anak majikan.
“Ambilakan sepatuku, yang warna merah. Jangan warna hitam!” majikan cilik memerintahku. Aku menuruti. Berlari menuju ruang sepatu. Terdapat enam sepatu merah dengan model berbeda. Kutimbang-timbang dalam angan.

Karya Terpendam


Aku buka lembar demi lembar dari buku usang ini. Hemm buku, tapi tidak juga. Ini hanyalah tumpukan lembaran kertas yang tak terpakai. Di balik tulisan-tulisan tangan ini sudah ada tulisan sebelumnya, tulisan yang aku tidak mengerti apa maksudnya.
“Bu Lek, memangnya mulai kapan Pak Lek nulis?”
“Sudah lama, Nduk. Sebelum nikah sama Bu Lek, beliau sudah nulis. Bu Lek lihat dari semua tulisannya. Bahkan ketika masih belum nikah, Pak Lek buat puisi dan gambar untuk Bu Lek. Agak lucu, sih, ketika Bu Lek ingat itu.” Sambil tersenyum menatap langit-langit rumahnya yang sederhana, Bu Lek mengenang saat-saat indah bersama Pak Lek.
“Berarti sudah lama ya. Pantas saja segini banyaknya.” Aku lihati tumpukan kertas berisi coretan-coretan gambar dan tulisan Pak Lek yang banyak ini, mulai dari yang lama, sekitar tahun 1970an sampai yang terbaru.

Bening



Seperti butiran pagi itu
Yang bergelung mengkubah di ujung daun
Bergelung saja,
Tak menetes jua
bergelung saja

Seperti serpihan resah subuh ini
Yang terdinding rapi di tirai sanubari
Terdinding saja,
Tak terungkap jua
terdinding saja

GLADAG KEMBAR


Tubuh tua, dan kaki yang rapuh itu mulai menapakkan diri di jalan perjuangan, tempat mempertaruhkan nasib hanya untuk sesuap nasi. Kota Jember nama tempat harapannya, dan Gladag kembar atau jembata kembar, sebagai salah satu tujuannya. Ia seorang kakek tua penjual pisang keliling. Namanya Parman, berusia sekitar enampuluh lima tahun. Bertubuh kurus, sedikit pendek dan biasa memakai topi yang sudah kumal. Orang yang melewati jembatan tersebut pasti akan menjumpainya, karena dia satu-satunya pedagang pisang yang memilih jembatan sebagai ladang rezekinya.
Jembatan padat dengan kendaraan, panas matahari menyengat, hujan yang terkadang melenyapkan kesegaran pisang-pisangnya, asap kendaraan yang siap meracuni pernafasaannya, dan rawannya keamanan lalulintas yang bisa tiap saat mengintai dirinya, tak membuatnya meninggalkan jembatan itu. Mungkin ada kenangan, atau karena Gladag Kembar adalah tempat pertama ia jumpai saat kakinya menginjak tanah Jember.

“Surat”


            Langit menyulam awan mendung dengan guratan-guratan bermuka muram. Angin bertiup kencang sampai dahan pohon depan rumah berguncang, daun-daunnya menerpa jendela kamar sampai berisik. Berulangkali Lastri memanggil anaknya Nis dengan suara tipis yang nyaris karam tertelan hujan.  
            Sore itu Lastri ketakutan. Petir yang meledak-ledak membuatnya seringkali terkejut. Belum lagi suara bergemerusuk dari daun yang menyetubuhi kaca jendela kamarnya. Nafasnya sesak tercekat di tenggorokan. Tubuhnya menggigil kedinginan. Hanya tangan Lastri yang masih memilin butiran tasbih sembari berdzikir.

KEHILANGAN


Mereka bilang  ini hanya masalah merelakan
Sebagian sempat berkata, biarkan waktu yang menyembuhkan semua
Dan yang lain menimpali untuk tak lagi mengenang yang sudah terjadi
Untukku…
Ini jauh dari definisi yang sudah mereka sampaikan
Teorema ikhlas tak lagi mampu menenangkan risau akan kehilanganmu
Segalanya masih tergambar jelas

JANGAN MENANGIS IBU


“Ya Allah, apa yang bisa aku berikan untuk Anakku? Aku tidak bisa bekerja untuknya, aku bahkan tak mampu membiayai sekolahnya, sehingga ia harus bekerja. Aku hanya bisa merepotkannya dengan kelemahan tubuhku yang tak mampu untuk bekerja lagi. Engkau maha adil ya Robb, engkau titipkan dia padaku, namun aku tidak bisa menjaganya dengan baik, aku tidak mampu memberinya kebahagiaan seperti ibu yang lain, bahkan aku membuat ia harus mencari nafkah menggantikan diriku yang sakit ini.
            Ya Rohman, kasih sayangmu tiada bertepi. Engkau mengetahui keadaan hamba, engkau paling tahu apa yang terbaik untuk diri ini, karena itu ya Allah, berikanlah kebahagiaan untuk anakku! Berikan kemudahan rizky pada kami agar Dilla bisa tetap sekolah layaknya anak SD lainnya, yang bisa bermain bahagia bersama teman-temanya, bukan lagi sekolah sambil bekerja, dan berikan kesehatan fisik ini ya Robb! Agar hamba bisa kembali bekerja” airmataku mengalir mengiringi tiap kalimat doa yang aku persembahkan pada Allah

Hikmah di Balik Keterpaksaan yang Indah

Sabtu, 17 mei 2000
Awan menggelanyut di langit sore yang kemerah-merahan. Burung-burung terbang munuju sarangnya. Jalan raya tampak ramai dengan sepeda motor yang lalu lalang. Nyala lampu-lampu kendaraan menerangi jalanan yang mulai redup. Debu-debu jalanan beterbangan di sekitar jalan besuki rahmat yang memang berdebu. Jalan tersebut tak begitu ramai karena memang bukan jalur utama di daerah tersebut. Sinar matahari semakin meredup, tergantikan lembayung kegelapan yang datang merangkak meyelimuti sang waktu.
Dari ujung jalan arah menuju jalan raya terlihat seseorang mengendarai sepeda motor.  Ia adalah seorang perempuan berumur 20-an yang mengenakan jaket jeans berwarna biru dan kerudung biru tua yang membalut wajahnya yang cantik. Setalah menempuh jarak sekitar 20-an meter ia menghentikan sepeda motornya di sebelah kanan di seberang jalan. Tangannya merogoh sesuatu dan mengeluarkan secarik kertas. Sejurus kemudian ia menoleh ke rumah yang ada di sebelah kanannya, lalu mengendarainya memasuki halaman rumah tersebut. Di sana terdapat dua rumah yang halamannya menjadi satu. Ia menhampiri pintu rumah yang telah ia amati sedari tadi.

Cobaan atau Anugerah?

Senin, 3 September 2012
Awan-awan di langit sore tampak memerah karena belaian sang mentari yang mulai terbenam. Sang malam mulai merangkak menyeret jubah kegelapannya. Kelelawar dan binatang malam lainnya mulai keluar dari sarangnya. Kodok-kodok mulai melantunkan marching band-nya, melengkapi suasana malam musim hujan ini.
Ini hari ketigaku masuk kelas setelah masa orientasi di asrama ini. Menyenangkan sekali, ketika pembelajaran, bisa bertemu guru yang asyik cara mengajarnya, dan juga bisa kenal siswa-siswa baru lainnya.
Tapi di sini aku harus fokus pada tujuanku. Mencari ilmu karena Allah untuk menjadi orang yang rahmatan lil’alamin. Dan ini merupakan kesempatan yang langka bisa belajar bahasa inggris gratis di tempat ini. Hanya bayar untuk sewa asramasaja, – yang murah jika dibandingkan kos di tempat lainnya – aku sudah bisa menikmati fasilitas yang memuaskan ini, dan juga bisa belajar bahasa inggris. Hemm.. nikmat ^_^

JA’I MALING KELAPA


Tidak ada orang yang benar-benar baik di zaman ini. Jika bukan bagian dari orang-orang yang menyakiti, pasti kita bagian orang yang yang suka memikirkan orang yang suka menyakiti. Namanya juga waspada. Tapi coba pertimbangkan lagi, apakah waspada yang kita maksud itu bukan curiga?
Maling teriak maling, banyak. Maling menuduh orang lain maling, banyak. Maling yang diam, padahal sudah banyak yang sudah menjadi korban, banyak. Tapi maling yang satu ini adalah maling yang aneh dibanding maling-maling itu.

KEHILANGAN CINDY


Suasana begitu sepi. Seakan tak ada angin yang bergerak. Begitu hening, hanya terdengar bunyi detakan jarum jam dinding besar coklat. Rumah ini seperti mati, kehilangan jiwanya. Tak ada keceriaan yang juga membuat orang lain ceria. Tak ada teriakan menggemaskan. Tak ada pula tangisan yang menyabarkan.
“Ayah, Cindy sekarang sedang apa ya?” Bu Renike menanyakan sesuatu yang tak dimengerti oleh suaminya, Pak Sofyan.
“Kita doakan saja dia. Pasti  Tuhan memberikan tempat yang terbaik untuknya.” Pak Sofyan mencoba menghiburnya..

lelah


Asa memudar dalam jejak yang semakin hilang...
Menepilah lelah yang mulai membayang
Bersandarlah pada jiwa
Jiwa kesepian

Wahai gelap yang tergantung ditepian langit
Jatuhkanlah semua yang ada...
Biarkan tetes itu menghapus semua
Dan biarkan lelah ini luruh dalam kucurannya
Lalu bermuara dalam samudera ketakutan ini... 

Darimana harus memulai kembali?
Kemana harus mulai melangkah lagi?
Pada siapa harus mengadu segala keraguan ini?
Segla tanya ini semakin memaksaku untuk menyerah 


DIANTARA LIMIT LELAH
Rizkiyah Hidayati
21.23 Wib

SOEMAD


Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudoyono, katanya huruf awal dari S adalah orang yang bisa menjabat lama. Buktinya Presiden pertama Indonesia, Soekarno, telah memimpin Indonesia sampai beberapa tahun. Setelah wafatnya, beliau mesih menjabat dihati masyarakat. Bukan hanya lukisan saja, melainkan terdapat pula patung dengan ukuran besar di halaman Pemakaman dan Musium Soekarno. Setiap hari banyak yang bertakjiah. Para penyelawat akan menikmati menawannya musium ini.
Sepanjang sejarah, nama Soeharto adalah nama yang juga melegenda di Indonesia. Telah menjadi orang pertama terlama di Indonesia. Ketika wafatnyapun mayoritas masyarakat kecil rela turun ke jalan-jalan menuju ke pemakaman demi rasa hormat pada mantan pimpinan mereka itu. Tidak ayal lagi, Soeharto tak pernah mati di hati rakyat-rakyat kecilnya.

Larik


Larik bukan carik kertas-kertas bertebaran di mejamu
yang hampir kau remat kusut untuk tempat sampah

Larik bukan tarik korden-korden kamarmu
yang mengembang tertutup saat deras membumi meski fajar merekah

Larik sejati adalah sejati
suci bagai bayi yang tak pernah menghirup aroma Bumi
Larik lah larik murni

Antara Sayap-Sayap


Seperti Ikarus,
katamu

Sayap itu hanya mula deritamu
Hingga hancurmu tak sekedar raga namun jiwa dan segalanya

Percayalah,
kataku

Kedip


Kejap mata berganti
lagi
bersama hujan

Bukan mimpi baru
hanya harapan tak terhenti
Begadang dengan Ferdinand de Saussure1
            Terlintas di benakku, sebuah pertanyaan. Mengapa kursi bisa disebut kursi? Benda yang biasanya terbuat dari kayu atau besi itu berfungsi sebagai tempat duduk. Di ruang tamu, di ruang makan, di sini. Yang kini menyangga tubuhku di depan meja bulat berbahan kayu jati. Namun maslaahnya, mengapa benda semacamitu disebut dengan kursi? Kenapa tidak disebut saja kusir, kusri, kuris, atau bolehkah aku menyebutnya dengan sebutan ‘kulsi’ saja. Sejujurnya, huruf R adalah derita bagiku.
            Baiklah, berpikir sendirian memang begitu menyulitkan. Malam ini, aku akan mengundang tamu istimewa yang datangnya dari suatu universitas di Swiss, Universitas Geneva2. Aku akan menghubungi tamu istimewa itu untuk membantuku mencari jawaban dari pertanyaanku ini. Tentang kursi yang kenapa tidak disebut kulsi saja.

PERASAANKU TIDAK BISA DITIPU (edisi spesial tahun baru)

Aku tidak bisa menipu perasaanku sendiri. Bisa saja aku menipu orang tuaku, adik dan kakaku, para tamu, bahkan menipu istri sekalipun. Tapi perasaanku tidak bisa ditipu.
Berulang kali aku mencoba, tapi gagal lagi. Tidak ada cinta sejernih cintaku pada bidadari hayalanku. Bermata bulat. Beralis sabit. Berhidung mancung. Pintar merawat diri. Lihai dalam hal memasak. Menjadi ibu yang paling dekat dengan putra-putri kami nantinya. Yang paling penting, pandai tersenyum.
Sangat berbeda dengan istriku yang baru kunikahi dua malam lalu. Wajahnya sulit memancarkan senyuman. Sepertinya diam adalah senjata andalan. Dia akan lebih sering di dalam kamar, dari pada ngobrol dengan keluargaku. Kebetulan karena rumah kami masih menjadi satu.

PENYESALAN


Angin malam berhembus kencang menerjang lapisan kulit setiap insan yang merasakan meski  rembulan tampil dengan bulat sempurna meski bintang-bintang terang benderang menghiasi malam, namun  pemandangan tersebut tak turut menghibur hati Tono yang sedang padam bagai tersiram air yang deras.
Tono adalah seorang pria yang sudah berkepala empat akan tetapi satu persatu dari empat anaknya pergi meninggalkan Tono dan istrinya, mereka tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya.