About

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

ZAHRA


Madu. Kata yang tidak asing bukan? Berasa manis, menjadikan sikonsum si sehat, begitu juga dengan bermuka madu, berhati madu, berbulan madu. Tapi bagaimana dengan madu yang akan kuceritakan ini? Kalian boleh menafsirkan sesuka.
Baiklah biar kuceritakan ciri-cirinya sebagai pembuka. Namanya Zahra. Tinggi badannya melebihi tinggi badanku. Aku setinggi telingganya. Jika kutafsir tingginya mencapai 160 cm. Dengan tubuh yang tidak begitu ideal. Jarinya tidak begitu lentik. Wajahnya juga tidak begitu berkilau seperti perempuan-perempuan keturunan Belanda lainnya. Mungkin yang membuatku tertarik padanya selain tatapanya yang selalu menghargai lawan bicara adalah senyum yang mampu mengubahnya menjadi perempuan memesona.
Tapi aku terlalu muda untuk menafsirkan kecantikannya. Yang kutahu, tidak sengaja kupergoki ibuku menangis ketika bertelepon dengannya. Ini kali ke dua, aku melihat ibu bijaksanaku menangis. Aku tahu, ayahku pasti ingin memadu ibu dengan perempuan itu.
Tidak mudah aku mencari tahu nomer teleponnya. Melalui teman dekat ayah, akhirnya aku berhasil mendapatkan. Aku menghubungi. Dia terkesan tersengat ketika tahu aku yang meneteleponnya. Tidak mudah mengatur  janji dengan perempuan berlesung pipi tipis kiri ini. Dia hanya bersedia menemuiku hari minggu. Aku siap menunggu.
“Maaf,” kata awalku dalam menjamu perempuan yang biasa kupanggil Mbak Zahra. Aku memilih tempat yang menjadi tempat faforit ayahku. Rumah makan gubuk, dengan suasana persawahan. Seperti biasa ketika kami bertemu, dia mengelus pundakku. Menggukir senyum dan memersilakan aku duduk.
“Ada sesuatu yang ingin kau ceritakan, Rif?”
“Ini tentang ibuku.”
Perempuan yang bibirnya hampir tidak pernah berparas lipstik ini mendongak. Melepaskan napas panjangnya.
“Ini boleh diminum?” tanya perempuan yang kulihat sempat membelalakkan mata.
“Iya.” Jawabku datar. Aku sengaja menyediakan minuman yang sesuai dengan isi kantongku yang juga menjadi minuman faforit ayah; susu soda merah muda. Aku tahu, jika kami memesan makan, Mbak Zahra pasti yang akan membayar. Tapi bukannya aku yang mengundangnya? Aku mencoba menjadi laki-laki dewasa.
“Ibumu kenapa, Rif?” suara yang tidak pernah berubah, serak-serak basah.
“Ibuku menangis.”
“Rifki, sudah bertanya kenapa Ibu menangis?”
“Tidak.”
“Kira-kira Rifki tahu ibu menangis karena apa?”
“Iya.”
“Hem?” perempuan itu mengelus rambutku. Aku merasakan ia telah menjadi ibu keduaku.
“Ibuku ingin, keinginan ayahku tercapai.”
“Rifki tahu, Ayah Rifki ingin apa?”
“Ingin menikah dengan Mbak Zahra.”
Aku tahu Mbak Zahra berpelik. Ia menyimakku lebih dalam dari sebelumnya. Mungkin baginya anak seusia 15 tahun sepertiku tidak perlu tahu masalah orang dewasa.
“Rifki,”
“Ibuku bersedia mundur demi kebahagiaan ayah. Mbak Zahra ingin tidak mau diduakan, kan?” aku mencoba tidak mendengarkan hatiku sendiri. Bagiku kebahagiaan ibu adalah milikku. Meskipun itu menjadikan hatiku terajam oleh belati berkali-kali.
“Rifki,”
“Ayah ingin anak perempuan. Ibu tidak bisa memberikan apa yang diinginkan ayah. Ibu rela mundur, Mbak.” Aku tidak berani menatap perempuan keturunan Belanda itu. Pasti air mataku takkan mampu tersumbat ketika sekali saja aku menatap matanya.
“Rifki yang pintar membahagiakan ibu, Mbak Zahra akan mencoba membantu ibu Rifki untuk punya anak perempuan ya? Mbak Zahra akan mencari tahu cara dari ilmu kedokteran maupun agama, insyaAllah ada.”
“Tidak, Mbak. Ibu sudah tidak mau hamil lagi. Ibu merasa usianya sudah tua. Ibu kasihan jika anak keempatnya nanti tidak mendapat kasih sayang yang cukup dari ibu. Karena menurut ibu, bisa saja kematiannya lebih awal dari pada kematian Rosul.” Aku berdecak dalam hati. Kurasa lidahku tajam. Perasaanku melambung. Satu tetes air mata tidak bisa kutahan. Celanaku terbasahi olehnya. Mbak Zahra menyodorkan tisu. Aku mengusap air mata.
“Jika ibu punya anak perempuan, Ibu juga tidak akan sanggup melihat anaknya termadu oleh orang seperti ayah yang ingin memadu ibu.” Hatiku terasa teracuni oleh kata-kataku sendiri. Entahlah apa yang dipikirkan Mbak Zahra. Selanjutnya, ia mengeluarkan selembar kertas HVS putih dengan bolpoin merah. Aku tahu sejak dulu Mbak Zahra yang kukenal sebagai teman mengajar ayah yang beberapa bulan itu, suka warna merah. Ia menuliskan sesuatu. Entah apa. Aku masih tersibukkan mencabut duri-duri pada hati.
“Rifki, yang sudah pintar bersikap mandiri, Mbak Zahra tidak bisa berlama-lama. Selembar kertas ini semoga bisa mewakili keputusan Mbak Zahra. Hem, minuman ini sudah dibayar?” tanya Mbak Zahra memperpindah topik. Mbak Zahra paling pintar memalingkan topik satu pada topik lainnya. Kadang aku merasa gemas padanya.
“Sudah, Mbak.”
“Wah, Mbak Zahra ditraktir Rifki dong?”
Aku tersenyum, sedikit ada rasa bangga. Kuanggap kata-kata Mbak Zahra sebagai pujian.
“Rifki, tetap di sini dulu atau ikut pulang?”
“Biarkan Rifki di sini dulu, Mbak.”
“Mbak Zahra duluan ya?”
Aku mengangguk.
##

Sore ini, aku tidak bisa melepas ingatanku bertemu Mbak Zahra. Kubuka lembaran sembari kubayangkan wajah Mbak Zahra yang pasi.

Rifki yang baik, sebaik ayah dan ibu Rifki, terima kasih ya, sudah menerima Mbak Zahra seperti saudara. Rifki, tahu sendiri, kan? Di zaman ini sulit sekali mendapatkan saudara sebaik kalian.
Rifki, Mbak Zahra mengerti perasaan Rifki, perasaan ayah dan ibu Rifki. Ayah Rifki yang menginginkan Mbak Zahra menjadi istrinya untuk menjadi calon ibu anak perempuannya. Ibu Rifki yang tidak sanggup melihat suaminya menderita. Dan Rifki yang tidak bisa merasakan rasa sakit yang terus-menerus ada dihati ibu Rifki.
Ayo kita mencoba menganalisis, apakah Rifki yakin Mbak Zahra mampu memberi anak perempuan untuk Ayah Rifki, sedang Mbak Zahra sendiri berharap punya anak laki-laki sebaik Rifki. Jika Ibu Rifki yang siap dimadu bahkan siap mundur karena tidak bersedia mempunyai darah daging perempuan karena anak perempuannya takut punya nasip sama yaitu dimadu, bagaimana dengan Mbak Zahra yang seandainya punya anak perempuan yang dimadu, sedang Mbak Zahra dimadu saja tidak mau, lebih menyakitkan bukan?
Rifki, baru dua kali ini Mbak Zahra merasa dihargai oleh cinta selain cinta dari keluaga. Rasanya sakit. Bayangkan beberapa orang yang cintanya belum bisa Mbak Zahra terima saja, rela menangis bahkan ada yang mengancam, bagaimana dengan dua orang yang salah satunya adalah Ayah Rifki yang benar-benar mengharapkan kebahagiaan Mbak Zahra, yang benar-benar tidak ingin ada  orang lain yang menyakiti Mbak Zahra?
Tapi sungguh Rifki, kejujuran Ayah dan Ibu Rifki menjadikan hati Mbak Zahra tergurat. Sakit. Telah banyak orang yang tersakiti oleh Mbak Zahra. Mungkin inilah salah satu penyebab Mbak Zahra ingin segera menikah, supaya memutus rasa sakit untuk orang yang sudah maupun akan mencintai Mbak Zahra, sedang Mbak Zahra sulit mencintainya.
Rifki yang mulai dewasa, salam untuk ibu hebat Rifki, sampaikan kekaguman Mbak Zahra kepadanya. Mbak Zahra pernah membaca beberapa cerita yang tokoh perempuannya menginginkan suaminya menikah lagi, Mbak Zahra tidak percaya karena naluri perempuan tidak bisa diduakan. Tapi sekarang Ibu Rifki telah menunjukkan pengorbanan harta terbesar perempuan, perasaannya; untuk membahagiakan Ayah Rifki.
Kurang hebat apa  Ibu Rifki?
Kehebatan apa yang kurang pada diri Ibu Rifki di mata Ayah Rifki?
Ibu Rifki yang begitu hebatnya saja akan dimadu, bagaimana dengan Mbk Zahra yang sering egois, dan sering membuat Ayah Rifki menangis?
Semoga Rifki memahami Mbak Zahra.

“Rifki, teman ayah kecelakaan, masuk rumah sakit. Ibu ikut ayah menjenguk, Rifki jaga rumah ya?” suara Ibu. Terasa Ibu mendongak dari pintu kamar. Aku hanya mengangguk. Terdengar ibu mengunci pintu rumah dari luar. Kulipat lembaran yang telah bercorak air mata.
Aku tahu yang dimaksud ibu adalah Mbak Zahra. Mbak Zahra yang kutemui tertabrak mobil yang melintas. Sedang menurut cerita para pedagang disekitar kejadian, Mbak Zahra menyeberang jalan tanpa melihat ke kiri maupun ke kanan. Kejadian itu tepat sepulang dari tempat kami janjian.
Aku melihatnya tadi siang. Darahnya tercecer melumuri jilbab merah darah Mbak Zahra. Orang-orang berbondong-bondong menghampiri. Ada yang menghubungi ambulan. Da juga yang mengurus tubuh Mbak Zahra. Tubuh Mbak Zahra ditutupi koran.
Aku menutup mata, tak sanggup membayangkan.

 IMSICX
Wuluhan, 30 Januari 2013

HAYALANKU KESASAR


Mungkin kau akan bertanya-tanya bagaimana cara menahlukkan orang yang memerintahmu. Pasti kau pernah ingin menjadikan orang yang menjadikanmu kacung selama ini menjadi kacungmu.
Sedikit-dikit pasti telah kau bayangkan bagaimana sesekali kau membentak dia yang berkali-kali membentakmu. Bayangkan saja, meskipun kau membentaknya dalam bayangan, setidaknya kau mendapat kepuasan. Sepertiku, yang setiap kali membayangkan membunuh anak majikan.
“Kau pecundang.” Kata bayanganku suatu ketika. Mungkin bayanganku bosan membayangkan terus-menerus membayangkan pembunuhan anak majikan. Karena aku disebut pecundang, saksikanlah aku pasti akan menjadi srigala yang siap menerkam anak majikan.
“Ambilakan sepatuku, yang warna merah. Jangan warna hitam!” majikan cilik memerintahku. Aku menuruti. Berlari menuju ruang sepatu. Terdapat enam sepatu merah dengan model berbeda. Kutimbang-timbang dalam angan.

Karya Terpendam


Aku buka lembar demi lembar dari buku usang ini. Hemm buku, tapi tidak juga. Ini hanyalah tumpukan lembaran kertas yang tak terpakai. Di balik tulisan-tulisan tangan ini sudah ada tulisan sebelumnya, tulisan yang aku tidak mengerti apa maksudnya.
“Bu Lek, memangnya mulai kapan Pak Lek nulis?”
“Sudah lama, Nduk. Sebelum nikah sama Bu Lek, beliau sudah nulis. Bu Lek lihat dari semua tulisannya. Bahkan ketika masih belum nikah, Pak Lek buat puisi dan gambar untuk Bu Lek. Agak lucu, sih, ketika Bu Lek ingat itu.” Sambil tersenyum menatap langit-langit rumahnya yang sederhana, Bu Lek mengenang saat-saat indah bersama Pak Lek.
“Berarti sudah lama ya. Pantas saja segini banyaknya.” Aku lihati tumpukan kertas berisi coretan-coretan gambar dan tulisan Pak Lek yang banyak ini, mulai dari yang lama, sekitar tahun 1970an sampai yang terbaru.

GLADAG KEMBAR


Tubuh tua, dan kaki yang rapuh itu mulai menapakkan diri di jalan perjuangan, tempat mempertaruhkan nasib hanya untuk sesuap nasi. Kota Jember nama tempat harapannya, dan Gladag kembar atau jembata kembar, sebagai salah satu tujuannya. Ia seorang kakek tua penjual pisang keliling. Namanya Parman, berusia sekitar enampuluh lima tahun. Bertubuh kurus, sedikit pendek dan biasa memakai topi yang sudah kumal. Orang yang melewati jembatan tersebut pasti akan menjumpainya, karena dia satu-satunya pedagang pisang yang memilih jembatan sebagai ladang rezekinya.
Jembatan padat dengan kendaraan, panas matahari menyengat, hujan yang terkadang melenyapkan kesegaran pisang-pisangnya, asap kendaraan yang siap meracuni pernafasaannya, dan rawannya keamanan lalulintas yang bisa tiap saat mengintai dirinya, tak membuatnya meninggalkan jembatan itu. Mungkin ada kenangan, atau karena Gladag Kembar adalah tempat pertama ia jumpai saat kakinya menginjak tanah Jember.

“Surat”


            Langit menyulam awan mendung dengan guratan-guratan bermuka muram. Angin bertiup kencang sampai dahan pohon depan rumah berguncang, daun-daunnya menerpa jendela kamar sampai berisik. Berulangkali Lastri memanggil anaknya Nis dengan suara tipis yang nyaris karam tertelan hujan.  
            Sore itu Lastri ketakutan. Petir yang meledak-ledak membuatnya seringkali terkejut. Belum lagi suara bergemerusuk dari daun yang menyetubuhi kaca jendela kamarnya. Nafasnya sesak tercekat di tenggorokan. Tubuhnya menggigil kedinginan. Hanya tangan Lastri yang masih memilin butiran tasbih sembari berdzikir.

JANGAN MENANGIS IBU


“Ya Allah, apa yang bisa aku berikan untuk Anakku? Aku tidak bisa bekerja untuknya, aku bahkan tak mampu membiayai sekolahnya, sehingga ia harus bekerja. Aku hanya bisa merepotkannya dengan kelemahan tubuhku yang tak mampu untuk bekerja lagi. Engkau maha adil ya Robb, engkau titipkan dia padaku, namun aku tidak bisa menjaganya dengan baik, aku tidak mampu memberinya kebahagiaan seperti ibu yang lain, bahkan aku membuat ia harus mencari nafkah menggantikan diriku yang sakit ini.
            Ya Rohman, kasih sayangmu tiada bertepi. Engkau mengetahui keadaan hamba, engkau paling tahu apa yang terbaik untuk diri ini, karena itu ya Allah, berikanlah kebahagiaan untuk anakku! Berikan kemudahan rizky pada kami agar Dilla bisa tetap sekolah layaknya anak SD lainnya, yang bisa bermain bahagia bersama teman-temanya, bukan lagi sekolah sambil bekerja, dan berikan kesehatan fisik ini ya Robb! Agar hamba bisa kembali bekerja” airmataku mengalir mengiringi tiap kalimat doa yang aku persembahkan pada Allah

Hikmah di Balik Keterpaksaan yang Indah

Sabtu, 17 mei 2000
Awan menggelanyut di langit sore yang kemerah-merahan. Burung-burung terbang munuju sarangnya. Jalan raya tampak ramai dengan sepeda motor yang lalu lalang. Nyala lampu-lampu kendaraan menerangi jalanan yang mulai redup. Debu-debu jalanan beterbangan di sekitar jalan besuki rahmat yang memang berdebu. Jalan tersebut tak begitu ramai karena memang bukan jalur utama di daerah tersebut. Sinar matahari semakin meredup, tergantikan lembayung kegelapan yang datang merangkak meyelimuti sang waktu.
Dari ujung jalan arah menuju jalan raya terlihat seseorang mengendarai sepeda motor.  Ia adalah seorang perempuan berumur 20-an yang mengenakan jaket jeans berwarna biru dan kerudung biru tua yang membalut wajahnya yang cantik. Setalah menempuh jarak sekitar 20-an meter ia menghentikan sepeda motornya di sebelah kanan di seberang jalan. Tangannya merogoh sesuatu dan mengeluarkan secarik kertas. Sejurus kemudian ia menoleh ke rumah yang ada di sebelah kanannya, lalu mengendarainya memasuki halaman rumah tersebut. Di sana terdapat dua rumah yang halamannya menjadi satu. Ia menhampiri pintu rumah yang telah ia amati sedari tadi.

Cobaan atau Anugerah?

Senin, 3 September 2012
Awan-awan di langit sore tampak memerah karena belaian sang mentari yang mulai terbenam. Sang malam mulai merangkak menyeret jubah kegelapannya. Kelelawar dan binatang malam lainnya mulai keluar dari sarangnya. Kodok-kodok mulai melantunkan marching band-nya, melengkapi suasana malam musim hujan ini.
Ini hari ketigaku masuk kelas setelah masa orientasi di asrama ini. Menyenangkan sekali, ketika pembelajaran, bisa bertemu guru yang asyik cara mengajarnya, dan juga bisa kenal siswa-siswa baru lainnya.
Tapi di sini aku harus fokus pada tujuanku. Mencari ilmu karena Allah untuk menjadi orang yang rahmatan lil’alamin. Dan ini merupakan kesempatan yang langka bisa belajar bahasa inggris gratis di tempat ini. Hanya bayar untuk sewa asramasaja, – yang murah jika dibandingkan kos di tempat lainnya – aku sudah bisa menikmati fasilitas yang memuaskan ini, dan juga bisa belajar bahasa inggris. Hemm.. nikmat ^_^

JA’I MALING KELAPA


Tidak ada orang yang benar-benar baik di zaman ini. Jika bukan bagian dari orang-orang yang menyakiti, pasti kita bagian orang yang yang suka memikirkan orang yang suka menyakiti. Namanya juga waspada. Tapi coba pertimbangkan lagi, apakah waspada yang kita maksud itu bukan curiga?
Maling teriak maling, banyak. Maling menuduh orang lain maling, banyak. Maling yang diam, padahal sudah banyak yang sudah menjadi korban, banyak. Tapi maling yang satu ini adalah maling yang aneh dibanding maling-maling itu.

KEHILANGAN CINDY


Suasana begitu sepi. Seakan tak ada angin yang bergerak. Begitu hening, hanya terdengar bunyi detakan jarum jam dinding besar coklat. Rumah ini seperti mati, kehilangan jiwanya. Tak ada keceriaan yang juga membuat orang lain ceria. Tak ada teriakan menggemaskan. Tak ada pula tangisan yang menyabarkan.
“Ayah, Cindy sekarang sedang apa ya?” Bu Renike menanyakan sesuatu yang tak dimengerti oleh suaminya, Pak Sofyan.
“Kita doakan saja dia. Pasti  Tuhan memberikan tempat yang terbaik untuknya.” Pak Sofyan mencoba menghiburnya..

Pembunuhan Misterius

Kasus yang kedua yang terjadi pada pembunuhan mahasiswa yang samapai kini belum ada tindakan dari pemerintah memberikan pesan bahwa lemahnya pemerintah dalam penanganan hak asasi manusia.
(Mengadaptasi dari film dokumenter : http://www.engagemedia.org/Members/thecamp/videos/payung_hitam/view)
     Oleh : Ibnu Wicaksono 


Payung Hitam (The Black Umbrella) merupakan sebuah film documenter yang menerangakan penuntutan Hak Asasi Manusia (HAM) kepada Pemerintah. Ada 2 pihak yang merasa dirugikan dan mengadakan unjuk rasa dengan memakai paying hitam di depan istana Negara setiap hari Kamis.
Perjuangan dua tokoh perempuan, Neneng (35th) salah satu warga Rumpin yang tanah 1000 hektarnya, di ambil secara paksa oleh angkatan udara pada tahun 2007, dan Ibu Sumarsih adalah orang tua Wawan (mahasiswa atmajaya) korban penembakan ketika era reformasi, yang sampai sekarang belum di
tindak lanjuti kasusnya.

Mereka berdua bertemu di hari kamis, di aksi diam. Di mana setiap hari kamis para pejuang-pejuang dari berbagai macam kasus, dari era 65-sekarang selalu berdiri di depan istana, memegang payung hitam, membawa pesan-pesan para pejuang untuk di sampaikan ke Presiden.

Kedua tokoh ini merupakan perwakilan dari sekian banyak pejuang lainnya yang menuntut keadilan dan melawan lupa. Ibu Neneng seorang petani dan ibu rumah tangga dengan 5 anak, ketika tahun 2007 membuat dirinya menjadi aktivis, mencari tahu tentang advokasi hukum dan hak-hak kemanusiaan.
Dirinya menjadi refleksi pembelajaran bagi warga rumpin lainnya, karena Ibu Neneng mendapatkan banyak informasi sehingga bisa menindaklanjuti aksi-aksi berikutnya untuk kasus Rumpin.

Ibu Sumarsih (57th), pensiunan DPR dan sekarang hidupnya ia teruskan sebagai bentuk perjuangan Wawan anaknya yang tidak pernah di berikan kejelasan dari Negara. Sudah hampir 13 tahun ia berjuang melawan lupa mengalami berbagai macam tindakan dan respon yang mendukung dari berbagai
macam pihak. Ibu Sumarsih juga mempelopori kegiatan kamisan dengan memakai baju hitam setiap kegiatannya, dan selalu hadir di depan istana untuk menyuarakan keadilan. Sampai pertemuan keduanya di kamisan, menjadi agenda kehidupan keseharian mereka yang tidak akan pernah selesai sampai keadilan mereka dapatkan.

Film documenter “Payung Hitam” ini banyak memiliki pesan yang ingin disampaikan. Sebagai wadah atau media pengingat bagi para penguasa yang selalu melupakan dan meninggalkan tidak mengurus Hak-hak rakyat. Melalui Film ini kita bias melihat bahwa kurangnya penanganan dan kepedulian pemerintah terhadap hak-hak rakyat. Ini bisa menjadikan kinerja pemerintah akan selalu dinilai negative oleh masyarakat. PEnegakan hukum di Negara ini juga masih lemah. Siapa yang beruang banyak, dialah yang bisa berkuasa bebas di atas hukum. Masyarakatmiskin selalu dibodohi dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang sangat merugikan masyarakat. Kehidupan mereka selalu resah, setiap hari selalu ada pemblokiran dan penggalian sawah. Hal ini menjadikan mereka bersatu untuk melawan. Mereka memiliki keyakinan bahwa diam adalah pengkhianatan dan mundur akan ditindas. Tanah ini bukan milik pemerintah, bukan milik Belanda atau siapapun, tapi milik masyarakat.

My Dream

(Mengadaptasi dari video : http://www.youtube.com/watch?v=oSlvkPXfYyo)
Oleh : Nita

Butir-butir salju tampak keputihan dan tak berhenti turun sejak sebulan yang lalu. Langit bulan November yang tak sepenuhnya cerah itu selali membawa butir salju dari langit. Tangan Seo Eun tampak menikmati setiap butir yang jatuh itu. Dia bisa menikmati hujan salju kapan saja, tapi hari tampak menyenangkan. Wajahnya tertutup oleh jaket tebal, belum lagi kaca mata hitamnya menutupi matanya. Sendiri. Hening. Hanya ditemani salju yang tak berhenti turun ke bumi.  

"Nona tidak pulang?" suara seorang yang cukup dikenalnya. Oh itu agensinya, hidupnya jadi berantakan karena dia terperangkap di sebuah agensi hiburan. Ini bukan pilihannya, tapi ini pilihan 70% ibu di Seoul. Harusnya dia hidup di Kutub Utara saja. Jadi dia bebas melakukan apa saja. 

Seo Eun Ah, nama yang disandangnya kali ini berpengaruh terhadap kehidupannya di negara ini. Eun Ah, tak pernah bermimpi menjadi seorang idola, orang yang dibanggakan. Meskipun demi sebuah kebudayaan. Jika saja bisa menolak, mungkin dia akan menjadi seorang yang lain. Bukan menjadi seperti ini. Matanya menatap tajam ke arah ahjumma yang memakai jas rapi berwarna hitam, rambutnya sebahu dan memakai rok sewarna dengan jasnya. Managernya yang membuat jadwal konsernya. Tapi Eun Ah membencinya. Ingin melarikan diri tapi tidak bisa. Sudah ada hitam di atas putih. Jika sampai dirinya melarikan diri dari G-Entertainment bisa-bisa dia digugat.

"Baiklah, kita pulang sekarang. Oia, aku ingin nonton konsernya band di Busan, tapi biarkan aku sendirian ya?"

"Busan? bukankah anda diundang di sana?"

"Aku ingin merasakan jadi penonton, aku tak tahu bagaimana rasanya berteriak ketika melihat penampilan artis idola. Hemm...bilang saja aku tidak bisa hadir. Toh biasanya aku selalu datang."

Manajer Seo Eun hanya diam saja. Tak ada respon darinya. Eun Ah jadi tahu dan sudah cukup mengenal manajernya itu. Ketika dia tak berbicara maka dia tak bisa menolak keinginanya. Senyum Eun Ah kini melebar sempurna. Dia akan bersenang-senang di Busan. Menikmati langit Seoul meski dengan segala aksesoris yang tak memperlihatkan bahwa dia juga salah satu artis papan atas di negeri ginseng ini.

***
Busan masih menawan di malam yang tak berbintang. Langit mendung tak menyurutkan keinginanya Eun Ah untuk datang ke konser yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi terbesar di Korea itu. Tiket VIP sudah dipesannya. Dengan harga yang lumayan untuk kantong remaja. Tapi di negara yang ditempatinya kini 90% lebih tertarik membeli hal seperti ini daripada fashion. 

Konser akan dimulai dengan penampilan band papan atas di korea, padahal di Seoul sudah menjamur band yang terdiri dari beberapa orang personil. Mereka menari dan menyanyi. Tapi entah kenapa masih ada sebuah band yang cukup exis diantara beberapa boy or girl band itu. Eun Ah jadi ingin tahu apa yang sudah dilakukan olehnya. Karena bisa bertahan sampai sekarang. 

Suara musik mulai mengalun, di panggung sudah ada band yang beberapa personilnya membawa bass, drum dan gitar. Mereka tampak hebat. Setelah vokalisnya menyanyi, tiba-tiba bukan teriakan yang keluar dari mulut Eun Ah, tapi air matanya perlahan menetes. Eun Ah mengamati vokalis yang tampak menguasai panggung, menikmati suasana panggung dan bahagia dengan lagu-lagunya. Dia harus mengenalnya. Itu kalimat pertama yang tersimpan di otaknya. Harus mengenal lelaki itu. Ingin mengenalnya bukan berarti ingin belajar, agensinya sudah cukup andal untuk latihan. Tapi ingin tahu caranya agar merasakan kebahagiaan seperti itu ketika di panggung. Akhirnya Eun Ah datang di tempat fitting bajunya. Mungkin di sana dia bisa bertemu lelaki itu, lelaki yang dikenal dengan nama Lee Hong Dong dari Ft Blue.

"Lee Hong Dong, tunggu!" teriak Eun Ah, lagian lelaki itu pasti mengenalnya. Dia sama-sama selebritis di kota ini.

"Ya, sepertinya aku mengenalmu?" tanya lelaki itu sambil berusaha mengingat-ingat wajah Eun Ah.

"Tentu kau mengenalku, aku juga tahu kamu."

"Oh..pelantun lagu Sweet memory, betul, kan?"

"Ternyata kau ingat. Aku... ingin kita berbicang-bincang jika kau ada waktu."

"Tentu saja, jadwalku sudah tidak padat. Jadi kau boleh menghubungiku kapan saja," ucap Hong Dong dengan penuh antusias. 

"Aku harus pergi, hari ini aku melewatkan acara stasiun tivi ini. Aku ingin menikmati sebagai penonton. Jadi aku tidak hadir di sini."

Setelah itu Eun Ah meninggalkan lokasi itu. Dia akan menghubunginya nanti. Perkenalan yang cukup mengesankan. Dia bahkan mengingat lagunya. Harusnya, Dirinya juga merasakan bahagia yang sama ketika berada di atas panggung itu. Bukankah itu menyenangkan. Tapi tidak menyenangkan untuk dirinya.

***
Lee Hong Dong hanya memandang perempuan yang di sampingnya itu, ini merupakan pertemuan mereka yang kedua setelah teriakan Eun Ah yang dulu mengagetkannya. Perempuan yang aneh. Menghindari acaranya sendiri untuk menghadiri acara yang dihindarinya.
“Bagaimana bisa kau menyanyi seperti itu di panggung?” tanya Eun Ah setelah menambahkan beberapa butir gula di gelasnya.
“Karena aku menyukainya, makanya aku menyanyi seperti itu di panggung. Apa kau tak bisa seperti itu?”
“Aku selalu merasa sedih ketika naik ke panggung, entahlah. Rasanya aku tak akan bisa menyanyi lagi.” Eun Ah menghela nafasnya berat dan memandangi Hong Dong seakan minta jawaban.
“Kau pasti bisa. ingatlah kau bawa mimpi Ibumu dan itu akan menjadi hal yang membahagiakanmu juga.”
Benar apa yang dikatakan Hong Dong, dia memang tak membawa mimpinya, tapi membawa mimpi ibunya. Ibunya ingin dia sukses dengan jalan ini. sedangkan mimpinya yang lain adalah membahagiakan ibunya. Ya, sejak saat ini dia akan menikmati pekerjaannya. Seperti apa yang dilakukan Hong Dong untuk dirinya sendiri.
“Kau dekat denganku hanya untuk ini?” tanya Hong Dong setelahnya.
“Aku pengagummu, tapi aku juga ingin resep bahagia darimu.”
Hanya pertemuan singkat ini yang merubah kehidupan Eun Ah, pemikirannya yang kadang egois dan tak memikirkan yang lain. Dia akan berjanji untuk menyenangkan orang yang mencintainya. Dia akan meraih mimpi-mimpinya dengan cara seperti ini.

Takkan Terganti

(Mengadaptasi dari video : http://www.youtube.com/watch?v=Jlhu5CmLwME) 
Oleh : Putu Adetya

   Selama ini sadarkah kalian tentang apa yang telah kalian perbuat?, Sudahkah kalian membuat goresan senyuman di wajahnya? Tak satu pun dari kita merasa dia adalah sosok pengganggu yang seolah-olah membelenggu ruang gerak kita. Selalu melarang, menasihati dengan penuh kesabaran yang tidak mengenal lelah. Namun,tahukah kalian maksud dari semua ini? tak lain tujuan yang begitu mulialah yang ingin mereka curahkan demi  kebaikkan kita nanti.
    Seperti kisah yang dapat kita petik pelajaran yang berharga dimana hiduplah seorang remaja perempuan dengan ayahnya mengidap tuna wicara, konon kondisi yang dialami ayahnya terjadi sesaat ibunya meninggal dunia karena suatu kejadian yang tragis. Hanya denganbermodalkan penghasilan yang serba berkecukupan dari mata pencaharian ayahnya yang berjualan mie dengan gerobak yang sederhana mereka hidup berdampingan di sebuah rumah kontrakan bak gubuk yang bisa roboh ditiup angin.
    Semua bermula saat sang anak melanjutkan pendidikannya ke sekolah menangah atas, karena ayahnya pikir jarak dari rumah ke tempat ia bersekolah cukup jauh, akhirnya ayahnya memutuskan untuk mengantarkan anak semata wayangnya dengan motor warisan kakeknya. Sebagai ayah pada umumnya, beliau hanya ingin berpesan kepadanya agar belajar yang rajin dan jadilah anak baik di sekolah, tentunya dengan bahasa isyaratlah cara sang ayah menyampaikannya. Namun reaksi pedas dan rasa acuh yang menyakitakan hati yang tampak dari pemandangan pagi itu. Dengan penuh rasa sabar dan sedikit senyuman di wajah ayahnya  seolah menganggap hal itu adalah sebuah isyarat bahwa sang anak mengiyakan pesan darinya.
    Akan tetapi, keadaan di sekolah tidak seperti yang ayahnya harapkan, teman – teman putrinya di sekolah yang mengetahui kalau ayahnya bisu kerap mengganggunya, mereka tak henti-hentinya menghina ayah sang buah hati. Awalnya dia hanya mencoba untuk tidak mempedulikan hal itu namun sikap mereka yang begitu keterlaluan berhasil membuatnya tak tinggal diam dan mencoba membela nama baik ayahanda.
    Sebuah kontak fisik pun terjadi hingga berujung pahit, sehingga membuat peristiwa itu tersebar bahkan sang ayah mengetahui bahwa yang terlibat itu putrinya sendiri. Sesampainya di rumah sambutan yang tak biasa diperlihatkan ayahnya kepada anaknya. Tak disangka, seorang ayah yang biasa menyambut kepulangannya dengan ramah dan penuh kasih saying yang lembut, sesaat berubah menjadi pertarungan hebat antara anak dan ayah. Karena merasa tak tahan lagi untuk berada di rumah, sang putri pun angkat kaki dari rumah itu dan terjun ke dunia gelap bersama teman lamanya yang kini mereka bertemu dan saling bertukar pikiran.
    Sementara Sang ayah yang duduk termenung tak tahu harus berbuat apa lagi untuk meyakinkan buah hatinya bahwa ia masih sayang padanya. Ia merasa gagal untuk menuruti semua keinginan putrinya itu, sampai-sampai perasaan itu terbawa  saat ia bekerja yang melakukan segalanya dengan setengah hati. Di sela –sela pekerjaannya ia pun merenungkan tentang cara apa yang harus ia perbuat demi membuat hubungan keduanya membaik. Akhirnya sang ayah berniat untuk memanfaatkan waktu ulang tahun putrinya untuk meminta maaf karena ia rasa semua ini adalah kesalahannya.
    Kue ulangtahun yang sederhana telah siap di meja, yang dihiasi lilin dengan nyala api kecil yang begitu indah dan terangnya mampu menyinari ruangan itu lengkap dengan tulisan  ”Selamat Ulang Tahun” terpampang dengan eloknya di atas kue itu. Selagi menunggu anaknya keluar dari kamarnya sang ayah mencoba menyusun kata-kata yang kali ini sekiranya membuat putrinya mengerti maksud hati sang ayah. Karena jika tidak, entah apa yang terjadi melihat sang putri pulang dengan wajah yang bermuram durja dan terus mengurung diri di kamarnya.
    Setelah menunggu cukup  lama, rasa curiga yang terus menghantui sang ayah tentang keadaan putrinya yang tak kunjung muncul juga dari kamarnya, membuat sang ayah mengetuk dan gelisah sebenarnya ada apa di dalam. Beribu-ribu ketukan telah dicoba namun tak ada jawaban dari dalam. Akhirnya sebuah dobrakan kencang dilancarkan sang ayah dan alangkah terkejutnya ia melihat putri satu-satunya terbaring tak berdaya dengan berlumuran darah.
    Tindakan cepat dilakukan oleh sang ayah, rumah sakit terasa begitu jauh mengingat sang putri yang terus meneteskan darah seiring langkahnya menuju tempat itu, bagaikan nyawa yang hilang di setiap tetesan darah yang mengalir membuat ayahnya tak kuasa menahan tangis melihat keadaan putrinya yang sangat mengenaskan ini.
    Sesampainya di tempat itu, sang ayah memohon kepada dokter agar nyawa anaknya itu dapat diselamatkan apapun caranya. Tanpa pikir panjang sang ayah meminta dokter untuk mengambil darahnya demi menyelamatkan putrinya.
Semua berlalu begitu cepat, tak ada yang dapat menghentikan kejadian pada malam itu, sang ayah yang telah tak bernyawa turut menemani putrinya yang keadaannya begitu membaik seiring dengan liter demi liter darah yang direlakannya untuk putrinya tercinta.
    Ketika terbagun, sang putri kaku tak bisa berkata apa-apa lagi, melihat sang ayah yang selama ini telah menjadi sosok yang selalu menyayangi dan merawatnya hingga ia beranjak dewasa. Ia rela mengorbankan nyawa berharganya demi keselamatan jiwa sang putri. Penyesalan yang tak dapat mengubah keadaan dan membantunya untuk membuat sang ayah hidup kembali telah memenuhi ruangan tersebut. Kata maaf belum sempat ia lantunkan, Kini ia baru tahu di balik keterbatasan ayahnya  itu tersimpan tujuan yang mulia untuk membimbing dirinya menjadi anak yang berhasil suatu hari nanti bahkan tujuan itu mampu melebihi pengorbanan ayah normal lainnya.       


“Kecewa akan suatu hal itu hal yang biasa
Namun janganlah mengecewakan seseorang karena suatu hal yang biasa”

SOEMAD


Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudoyono, katanya huruf awal dari S adalah orang yang bisa menjabat lama. Buktinya Presiden pertama Indonesia, Soekarno, telah memimpin Indonesia sampai beberapa tahun. Setelah wafatnya, beliau mesih menjabat dihati masyarakat. Bukan hanya lukisan saja, melainkan terdapat pula patung dengan ukuran besar di halaman Pemakaman dan Musium Soekarno. Setiap hari banyak yang bertakjiah. Para penyelawat akan menikmati menawannya musium ini.
Sepanjang sejarah, nama Soeharto adalah nama yang juga melegenda di Indonesia. Telah menjadi orang pertama terlama di Indonesia. Ketika wafatnyapun mayoritas masyarakat kecil rela turun ke jalan-jalan menuju ke pemakaman demi rasa hormat pada mantan pimpinan mereka itu. Tidak ayal lagi, Soeharto tak pernah mati di hati rakyat-rakyat kecilnya.
Begadang dengan Ferdinand de Saussure1
            Terlintas di benakku, sebuah pertanyaan. Mengapa kursi bisa disebut kursi? Benda yang biasanya terbuat dari kayu atau besi itu berfungsi sebagai tempat duduk. Di ruang tamu, di ruang makan, di sini. Yang kini menyangga tubuhku di depan meja bulat berbahan kayu jati. Namun maslaahnya, mengapa benda semacamitu disebut dengan kursi? Kenapa tidak disebut saja kusir, kusri, kuris, atau bolehkah aku menyebutnya dengan sebutan ‘kulsi’ saja. Sejujurnya, huruf R adalah derita bagiku.
            Baiklah, berpikir sendirian memang begitu menyulitkan. Malam ini, aku akan mengundang tamu istimewa yang datangnya dari suatu universitas di Swiss, Universitas Geneva2. Aku akan menghubungi tamu istimewa itu untuk membantuku mencari jawaban dari pertanyaanku ini. Tentang kursi yang kenapa tidak disebut kulsi saja.

PERASAANKU TIDAK BISA DITIPU (edisi spesial tahun baru)

Aku tidak bisa menipu perasaanku sendiri. Bisa saja aku menipu orang tuaku, adik dan kakaku, para tamu, bahkan menipu istri sekalipun. Tapi perasaanku tidak bisa ditipu.
Berulang kali aku mencoba, tapi gagal lagi. Tidak ada cinta sejernih cintaku pada bidadari hayalanku. Bermata bulat. Beralis sabit. Berhidung mancung. Pintar merawat diri. Lihai dalam hal memasak. Menjadi ibu yang paling dekat dengan putra-putri kami nantinya. Yang paling penting, pandai tersenyum.
Sangat berbeda dengan istriku yang baru kunikahi dua malam lalu. Wajahnya sulit memancarkan senyuman. Sepertinya diam adalah senjata andalan. Dia akan lebih sering di dalam kamar, dari pada ngobrol dengan keluargaku. Kebetulan karena rumah kami masih menjadi satu.

PENYESALAN


Angin malam berhembus kencang menerjang lapisan kulit setiap insan yang merasakan meski  rembulan tampil dengan bulat sempurna meski bintang-bintang terang benderang menghiasi malam, namun  pemandangan tersebut tak turut menghibur hati Tono yang sedang padam bagai tersiram air yang deras.
Tono adalah seorang pria yang sudah berkepala empat akan tetapi satu persatu dari empat anaknya pergi meninggalkan Tono dan istrinya, mereka tidak tahan dengan kondisi ekonomi keluarganya.

Si Adik yang Lugu


“Kak, ngapain sih di situ? Kok kayak ngumpet-ngumpet gitu?” Si kakak tidak menyahut.
“Kak, ada yang nyariin loh. Gak ditemuin?” Si adik yang berumur 8 tahun semakin tidak mengerti dengan tingkah kakaknya.
“Ssstt.. Diam! Jangan banyak omong!” Si kakak mulai menggerutu mendengar adiknya mengocehinya dari tadi.
“Lhaa Kakak ngapain di bawah meja tuh,” si adik menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian melihat kakaknya lagi, “gak ada gempa, kan.”
“Iya tau, Dik.” Si kakak tetap sibuk di bawah meja sembari mencari-cari sesuatu.
“Ada yang nyariin tuh di depan.”
“Iya, Adikku sayang,” si kakak akhirnya keluar dari meja kemudian menuntun si adik keluar kamarnya, “bentar lagi kakak temuin. Suruh tunggu sebentar yah.” Si adik hanya bisa tercengang melihat kakaknya, namun ia turuti saja perintah kakaknya itu. Berbalik, pintu kamar kakaknya sudah tertutup. Hemm.. desahnya.

BALADA TERBUNUHNYA MBOK MAH


Bagi Mbok Mah, pekerjaan itu adalah hobi. Paling lambat satu  jam setelah bangun, ia akan menjalani pekerjaan itu. Menyiur lebih dulu. Sarapan akan ia lakukan saat matahari sedikit meninggi.
Para tetangganya sudah hapal, ada yang cukup mengangguk ketika Mbok Mah menyapa, ada yang lebih dulu menyapa, ada yang menyungging senyum saja, ada yang mengeluarkan kata-kata serapah pada yang ia anggap “sampah”, Mbok Mah. Mbok Mah tahu siapa saja mereka. Mereka adalah orang-orang kaya dari pada dirinya. Jika mereka bukan kaya harta, kehormatannyalah yang ia jadikan sebagai sumber kekayaan.

Terhapusnya Catatan Merah Paranoia

Angin berhembus membelai lipatan daun ilalang yang berjajar di sepanjang jalan kenangan. Jalan yang membentang dari utara, yang membelah hutan cemara di sisi kanan dan kiri jalan. Pagi yang diselimuti udara hangat yang tengah dipanaskan mentari sejak terbit di kaki cakrawala. Membentang jalan itu di depanku. Masih seperti yang dulu, cemara-cemara masih menancapkan kaki-kaki akarnya di kedalaman tanah. Pucuk-pucuk daun cemara yang runcing seolah membisikkan sesuatu kepadaku. Rumput-rumput liar menggelar kehidupan di sela-sela kehiduoan cemara-cemara yang tinggi jenjang. Rumput-rumput itu seragam, berdaun sempit dan panjangnya seukuran jari kelingking orang dewasa. Tanah tertutupi olehnya, rumput dan cemara, tetapi di ujung jalan di dekat perigaan di sisi paling utara, tanah telanjang tanpa rumput ataupun cemara yang menyentuh tubuh haranya. Disana, kenangan itu tersimpan.