About

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Bening



Seperti butiran pagi itu
Yang bergelung mengkubah di ujung daun
Bergelung saja,
Tak menetes jua
bergelung saja

Seperti serpihan resah subuh ini
Yang terdinding rapi di tirai sanubari
Terdinding saja,
Tak terungkap jua
terdinding saja

KEHILANGAN


Mereka bilang  ini hanya masalah merelakan
Sebagian sempat berkata, biarkan waktu yang menyembuhkan semua
Dan yang lain menimpali untuk tak lagi mengenang yang sudah terjadi
Untukku…
Ini jauh dari definisi yang sudah mereka sampaikan
Teorema ikhlas tak lagi mampu menenangkan risau akan kehilanganmu
Segalanya masih tergambar jelas

lelah


Asa memudar dalam jejak yang semakin hilang...
Menepilah lelah yang mulai membayang
Bersandarlah pada jiwa
Jiwa kesepian

Wahai gelap yang tergantung ditepian langit
Jatuhkanlah semua yang ada...
Biarkan tetes itu menghapus semua
Dan biarkan lelah ini luruh dalam kucurannya
Lalu bermuara dalam samudera ketakutan ini... 

Darimana harus memulai kembali?
Kemana harus mulai melangkah lagi?
Pada siapa harus mengadu segala keraguan ini?
Segla tanya ini semakin memaksaku untuk menyerah 


DIANTARA LIMIT LELAH
Rizkiyah Hidayati
21.23 Wib

Larik


Larik bukan carik kertas-kertas bertebaran di mejamu
yang hampir kau remat kusut untuk tempat sampah

Larik bukan tarik korden-korden kamarmu
yang mengembang tertutup saat deras membumi meski fajar merekah

Larik sejati adalah sejati
suci bagai bayi yang tak pernah menghirup aroma Bumi
Larik lah larik murni

Antara Sayap-Sayap


Seperti Ikarus,
katamu

Sayap itu hanya mula deritamu
Hingga hancurmu tak sekedar raga namun jiwa dan segalanya

Percayalah,
kataku

Kedip


Kejap mata berganti
lagi
bersama hujan

Bukan mimpi baru
hanya harapan tak terhenti

HILANG ARAH


Gelisah itu datang..tanpa pernah tahu harus diapakan
Menggelayut…menggantung diantara debu asa yang mulai bertebaran tanpa terencana
Dan sepipun mulai memaksa…mencari celah untuk berkuasa
Pada batin yang mulai tak percaya akan harap yang dulu sempat bermuara
Kemana arah harus dituju?
Saat mata angin tak lagi bisa terbaca maknanya
Jejak usang di atas pasir itupun mulai hilang…terterpa angin, tak berbekas
Lalu kemana lagi kaki ini harus berjalan?

RASA DALAM CAWAN


Gelap malam butakan pena
Pusaran waktu menumpulkannya
Menggilas setiap pucuk lancip
Melunakkan keganasan raungannya
Bagaikan sang rimba tak berdaya
Sang pertiwi teriak histeris
Lubuk hati goreskan tangis
Jiwa termangu dalam semu
Menerka kekuatan terpendam
Sunyi

AIR MATA DI HARI FITRI



Oleh : Lia Salsabila

Waktu bergulir cepat
Bulan penuh berkah pun lewat
Gema takbir mengalun bersahutan
Sambut datangnya hari kemenangan

Perasaanku campur aduk
Saat haru, sedih dan bahagia memeluk
Haru, Ramadan berlalu pergi
Sedih, takut tak bersua kembali
Bahagia, karena tiba hari tuk kembali suci

Namun terasa ada yang berbeda
Malam ini kurasa tak begitu ceria
Riuh bedug di musola
Tak mampu usir gulana

Dua kali gempa buatku gelisah
Menggoyang kotaku bak ayunan saja
Aku panik tak terkira, bertanya tanya
Bagaimana mereka yang di pusat gempa

Membayang
Jerit ketakutan erang kesakitan
Menyatu dengan gemuruh reruntuhan
                                      
Dan kini, bagaimana lebaran mereka
Jangankan pakaian baru dan kue hidangan
Untuk makan saja menunggu belas kasihan
Sedang rumah pun tinggal puing berserakan

Ya Allah
Peringatanmu datang bertubi tubi
Tetap saja kami tenggelam dalam nikmat semu duniawi
Akankah Engkau mendatangkan peringatan lebih dahsyat lagi

Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar
Laa ilaaha illallahu allahuakbar
Allahuakbar walillahilhamd

Hujan menetes dari kelopak sendu
Saat kulantunkan takbir elukan asma-Mu
Berharap hati bersih selalu
Hingga kutetap melangkah di jalan-Mu

Hanya Satu


Oleh : Indira Karina

Satu hanya sekali
Satu yang dirindukan
Satu yang dinantikan
Hanya satu, istimewa
Beruntunglah mereka
Berjumpa dengan satu
Takkan ada sia-sia
Laku-laku yang baik

Berusaha dapatkan yang satu
Satu kesempatan
Tak datang dua kali
Dia berikan berlian
Dia berikan emas
Dia berikan yang mahal
Tapi gampang ‘tuk dapatkan
Hanya satu dalam dua belas;
Ramadan

Kantung Pelangi


Karya: Artina Artie

Satu warna pelangi dalam sakunya
Tak pernah disangka
Menafirikan etos gigihnya
Meski harus perih
Tak apalah

Harap sedih sudah
Sudahi susah
Permainkan hati
Lepas menjarah lelah

Berdegup warna pelangi itu
Bergetar dan berbisik,”Satu warna pelangi untukmu.”

21 November 2011

Daun Jatuh Menari Utuh


Daun jatuh menari utuh
Menari, melenggok, membelai
Terbawa angin lari pagi
Sebelum jatuh ke bumi.

Daun jatuh menari utuh
Lebarkan gerak terakhir
Sementara sejarah telah terukir
Di ujung sendi pikir.

Daun jatuh menari utuh
Menyentuh  angin
Terbawa angin
Berkawan angin dan hujan.

Daun jatuh menari utuh
Sentuh bumi
Gapai bening sisi

Karya: Artina Artie